Minggu, 25 Mei 2008
Tolak BBM, 250 Aktivis Subang Turun ke Jakarta
SUBANG - Ratusan Aktivis dari Front Rakyat Demokrasi Subang (FDRS) besok diagendakan akan turun ke Jakarta bergabung dengan elemn masyarakat lain untuk melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM.
Sebanyak 250 aktivis FRDS akan bergabung dengan aktivis Front Rakyat Menggugat, Front Pemuda 98 dan elemen masyarakat lainnya. Mereka akan bergabung dengan ribuan massa di kampus UKI Salemba. Selanjutnya menggelar aksi long march menuju Istana Presiden.
"Kami akan bergabung dengan ribuan elemen lain yang sudah mulai beregerak hari ini di Jakarta. Ini sebagai sikap tegas kami menolak kebijakan pemerintah SBY-JK," tegas Ketua FDRS, Handra Munandar
Menurut Handra, salah satu tuntutan yang akan digaungkan dalam aksi besok, fokus pada tiga tuntutan, yakni menolak kenaikan harga BBM dan menurunkan harga bahan pokok, dan mendesak pengusaha antek-antek neo liberalisme segera keluar dari Indonesia.
Dikatakan Handra, kebijakan SBY-JK rencana untuk menaikan harga BBM adalah tindakan oportunis pemerintah dan tidak berpihak kepada nasib rakyatnya yang telah menjadikannya sebagai kepala negara.
"Apa yang dilakukan oleh SBY-JK sudah mengingkari komitmen politik dia pada kampanye. Dan rencana menaikan harga BBM ada tindakan pengkhianatan Presiden terhadap kerakyatan," tandas Handra.(Annas Nasrullah/Sindo/ahm)
Janda dan Menantu Kompak Timbun Minyak Tanah
SUBANG- Janda muda bernama Nining (38) warga RT 12/4 Desa Kawungluwuk Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang Jawa Barat menimbun minyak tanah ternyata tidak sendiri. Nining menimbun minyak tanah bersama menantunya, bernama Aang Tarmono.
Menurut Kapolres Subang AKBP Sugiyono, sebelum Nining dan barang bukti sebanyak 20 drum berisi minyak tanah, dua hari sebelumnya aparat menangkap menantu Nining, dalam kasus yang sama. Aang menimbun sebanyak 1.260 liter minyak tanah
"Penangkapan terhadap pemilik dan barang bukti minyak tanah, hasil pengembangan dari keterangan menantu Nining, bernama Aang Tramono yang menimbun 1.260 liter minyak tanah," ujar Kapolres Subang AKBP Sugiyono
Penangkapan terhadap Aang warga Desa Kawungluwuk, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang ini setelah aparat mendapat laporan dari masyarakat setempat. Warga setempat mencurigai aktivitas Aang yang kerap membeli minyak tanah dalam jumlah besar.
"Dari laporan warga kami lakukan pengembangan dan penyelidikan. Setelah terbukti kami langsung meluncur ke lokasi," imbuhnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Nining diamankan aparat karena terbukti menimbun minyak tanah sebanyak 4 ton. Minyak tanah itu rencananya akan dijual ketika harga BBM dipastikan mengalami kenaikan. (Annas Nasrullah/Sindo/fit)
Subang Terancam Krisis Pangan

budaksubang.blogspot.com
SUBANG - Produktifitas padi di wilayah Pantura Subang kritis, akibat menyusutnya area pertanian, serangan hama, dan harga pupuk yang melangit.
Ketua Pemuda Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Subang Encep Hasan Basri memastikan hal ini menjadi ancaman rawan pangan.
"Kami pesimistis produktifitas padi akan mengalami peningkatan. Karena selama ini keberpihakan pemerintah hanya sekedar ?lipstik' saja tanpa diikuti realisasi. Sementara fakta di lapangan, harga pupuk mahal dan tanaman padi habis diserang hama," ungkap Encep, di Subang, Jawa Barat, Jumat (23/5/2008).
Dia menjelaskan, pada kondisi normal,dari satu hektare lahan tanam pertanian, petani akan mendapatkan sekitar 4-5 ton padi. Namun, akibat serangan hama, minimnya saluran air dan harga pupuk,sejak tahun terakhir ini petani hanya memproduksi padi hanya sekitar 2-4 ton per hektare.
Dengan demikian, menurut Encep dari luas pertanian di Kabupaten Subang seluas 83 ribu hektare, petani Subang hanya mendapatkan sekitar 249 ribu ton permusim.
"Lebih parahnya lagi, belum juga panen,tanaman padi mati karena kekurangan air dan diserang hama. Nah kalau ini dibiarkan terus, maka Subang yang disebut lumbung padi akan terkikis," tandasnya
Karena itu lanjut dia, HKTI Subang mendesak pemerintah memprioritaskan bidang pertanian. Salah satunya dengan menambah alokasi anggaran untuk petani menjadsi 10 persen dari APBD. Saat ini, anggaran untuk pertanian hanya lima persen.
"Pemerintah hanya memikirkan pada tataran teori saja, tapi aplikasinya ?nol besar'," tegasnya.
Selain itu, sambung dia, ancaman krisis ketahanan pangan di Subang juga disebabkan adanya penyusutan areal pertanian. Misalnya, harus dikorbankan menjadi pemukiman atau untuk memenuhi target usaha properti maupun industri.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Subang, sentra lumbung padi Jawa Barat itu kini hanya punya bentangan sawah seluas 83 ribu hektare. (Annas Nasrullah/Sindo/rhs)
Sabtu, 10 Mei 2008
Calon Perseorangan Ikut Dalam Pilkada Subang
SUBANG - Calon Bupati dan Wakil Bupati Subang dari unsur perseorangan dipastikan akan meramaikan Pemilihan Kepala Darah (Pilkada) Subang pada Oktober mendatang.
Kepatian itu ditegaskan Sekrataris KPUD Subang, Achridin Wihardja di ruang kerjanya di Jalan Soetoyo Subang. Menurut dia, keputusan itu keluar dari hasil rapat pleno anggota KPUD.
"Pada Pilkada Subang nanti, kami sudah melibatkan calon perseorangan. Ini sesuai dengan Undang-undang No 12/2008 tentang Perubahan Kedua atas UU 32/2004 tentang pemerintahan daerah," ujar Achridin
Kepastian itu juga diperkuat dengan surat dari KPU Pusat yang diterima KPUD Subang tentang calon perseorangan. Dalam surat itu disebutkan calon perseorangan bisa dilibatkan dalam Pilkada, jika waktu pendaftaran Calon Bupati dan Wakil dilakukan mulai bulan Juni.
Sementara itu, syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh calon dari unsur indpendent, Achridin menguraikan, di antaranya calon harus didukung oleh 3 persen dari jumlah pemilih, yakni 1.520.783 orang yang tersebar di 50 persen dari total Kecamatan yang ada, atau 15 Kecamatan.
"Dukungan terhadap calon perseorangan memuat nama, umur, alamat, tandatangan dan dibubuhi materai Rp6 ribu. Dan yang terpenting, nama pendukung itu tidak bersifat ganda, dalam arti di calon perseorangan lain ada," paparnya
Bukti dukungan itu, Achridin melanjutkan, harus sudah diterima KPUD 21 hari sebelum pembukaan pendafatran calon Bupati dan wakil pada 5 Juni mendatang, untuk ditindak lanjuti oleh petugas KPPS. (Annas Nasrullah/Sindo/fit)
Warga Subang Cemaskan Gelombang Pasang
TEMPO Interaktif, SUBANG:Warga Desa Legonwetan dan Mayangan, Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang sudah empat hari ini dihinggapi perasaan cemas menyusul gelombang air pasang setinggi satu meter di wilayah mereka. Meski tak ada korban jiwa, kerugian material yang dialami masyarakat mencapai Rp.1,2 miliar.
Sugandi, warga Desa Mayangkan menuturkan, gelombang pasang terjadi sejak Ahad malam (4/5). Rob yang melanda pantai utara Kabupaten Subang itu menyebut rutin datang mulai pkl.18.00 dan baru surut pada pkl.07.00 pagi harinya. "Serangan paling ganas biasanya mulai pkl.22.00," kata Sugandi.
Arus gelombang pasang di dua desa itu terjadi karena luapan muara sungai Cigadung. Aliran sungai tertahan gelombang saat masuk lautan, dan berputar ke wilayah pemukiman warga. Setidaknya ada 413 rumah di kawasan itu.
Sejauh ini, belum ada warga yang mengungsi. Mereka memang masih bertahan di rumah, meski dilanda kecemasan dan mulai kesulitan air bersih. Sumur berubah warna kecokletan-cokletan. "Nggak barani pakai," kata Carta.
Menurut Ela Nurlaela, Camat Legonkulon, pemerintah berupaya membangun tembok penahan abrasi sejauh dua kilometer dengan ketinggian 1,2 meter. Proyek itu didanai pemerintah pusat.
Upaya lain, meninggikan badan jalan 40 centimeter sejauh 1,2 kilometer dan membangun tembok penahan tanah di pinggiran sungai Cigadung setinggi 70 centimeter. "Tapi, tampaknya upaya-upaya tersebut belum efektif," kata Ela.
Ela minta agar dibuatkan kembali tembok baru sepanjang 800 meteran lagi agar bahaya terjangan gelombang pasang bisa terantisipasi.
Upaya pengadaan air bersih juga telah dilakukan PDAM dengan mengirim dua tangki air berisi 10 ribu air bersih. "Memang belum bisa memenuhi semua kebutuhan," kata Ela.
Ela mengaku sudah menyiapkan tiga titik lokasi evakuasi masing-masing di kantor Desa Legonwetan, SD Mayangan dan masjid Al-Sandy di Mayangan. Ihwal kerugian material yang mencapai Rp.1,2 miliar, Ela mengungkapkan, penyebabnya adalah terhempasnya 500 hektar lahan pertambakan milik rakyat.
Nanang Sutisna
Minggu, 27 April 2008
Ketahuan Mengedar Sabu-Sabu, Polisi Subang Tahan Oknum Polisi
TEMPO Interaktif, SUBANG:Kepolisian Subang mencokok Brigadir Dua Mustofa,49 tahun karena menjadi pemasok ekstasi dan sabu-sabu di wilayah Subang. Mustofa yang juga anggota Polres Indramayu ini ditangkap di rumahnya, kecamatan Patrol, Indramayu, Selasa (15/4) malam.
Menurut Kepala Polres Subang, Ajun Komisaris Besar Sugiyono, di lokasi pengerebekan itu, tim reserse menemukan barang bukti dalam bentuk uang tunai Rp 9,4 juta, 20 butir ekstasi dan 1,5 paket sabu-sabu siap edar. "Dia (Mustofa) kena ancaman hukuman pidana dan kode etik profesi,” kata Sugiyono di kantornya, Rabu (16/4).
Terbongkarnya aksi Mustofa, kata Sugiyono, setelah sebelumnya tim reskrim Polres Subang menangkap lima pencandu narkoba yang sedang pesta ekstasi dan sabu-sabu di sebuah cafe di kota Subang. "Mereka mengaku membeli sabu-sabu itu dari dia," tutur Sugiyono.
Awalnya, satu diantara penikmat ekstasi dan sabu-sabu itu menawari ekstasi kepada pemandu lagu di cafe itu, tapi tak di layani. Si pemandu lagu lalu menginformasikan adanya sekelompok pecandu narkoba itu ke pemilik café. Selanjutnya, pemilik cafe melaporkan soal itu ke Polres Subang.
Sugiyono mengaku sedang mengembangkan terus pemeriksaan terbongkarnya oknum polisi yang menjadi pengedar barang haram tersebut. Bukan tidak mungkin, masih ada jaringan lain yang terkait dengan "Jaringan Mustofa" tersebut.
Nanang Sutisna
Pengidap HIV/AIDS di Subang Meningkat 200 Persen
TEMPO Interaktif, Subang:LSM Peduli AIDS Subang, Jawa Barat, mengidentifikasi peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS yang sangat signifikan di Subang. Pada tahun 2006 jumlah pengidap HIV/AIDS hanya 86 orang, sedangkan pada 2008 sudah mencapai 200 orang lebih.
Perkembangan itu dinilai sudah sangat mengkhawatirkan karena biasanya merupakan fenomena gunung es. "Jika tidak ditangani lebih serius bisa meleleh ke mana-mana," kata Suhaerudin, Ketua LSM Peduli AIDS Subang, Kamis (17/4).
Peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS itu, kata Suhaerudin, disebabkan tidak jalannya kinerja Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Subang. "Action-nya nggak ada," ujarnya. Padahal, semua dinas dan instansi yang ada, termasuk Departemen Agama, terlibat dalam komisi yang dipimpin Bupati Eep Hidayat tersebut.
Hasil survei LSM Peduli AIDS Subang mengungkapkan bahwa HIV/AIDS di Subang yang semula hanya menjalari komunitas pelacur di wilayah Pantai Utara, namun belakangan ini beralih ke para pekerja di luar negeri, terutama yang mencari peruntungan di Korea dan Taiwan. "Laki-laki dan perempuan sama-sama ada yang terserang," kata Suhaerudin.
Sementara, Alma Suciati, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, tak menampik temuan Suhaerudin tersebut. Alma menyodorkan data, jumlah akumulasi pengidap HIV/AIDS sampai akhir 2007 meningkat sampai 186 orang. Pengidap HIV 140 orang dan AIDS 46 orang. Pada medio Januari hingga Maret 2008, ditemukan kasus baru sebanyak 16 orang, 10 terkena HIV dan enam orang lainnya mengidap AIDS. Jumlah akumulatif sampai April ini tercatat 202 pengidap.
Alma membantah kalau KPAD tidak bekerja. Ia bersama koleganya telah melakukan upaya-upaya konkret dalam upaya mencegah penyebaran penyakit sangat berbahaya tersebut, di antaranya melakukan pelayanan manajemen kasus kepada 56 orang, melakukan terapi ARV 34 orang dan pelayanan PMTCT tiga orang. Tapi, pihaknya mengaku sering kelabakan akibat ulah para pengidap saat akan dilakukan tindakan medis. "Suka banyak yang kabur," ujarnya.
Di Kabupaten Purwakarta, sampai akhir 2007 pengidap HIV/AID tercatat sebanyak 17 orang. "Pengidapnya mayoritas berprofesi sebagai PSK," kata Agung, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta. Ia mengeluhkan minimnya anggaran pemerintah buat penanggulangan penyakit tersebut. Dari APBD kabupaten tak ada sama sekali, sedangkan dana dari provinsi turun setahun sekali.
NANANG SUTISNA

